Mahasiswa Magister Teknik Sipil UMS Dalami Praktik Konstruksi Gedung Bertingkat melalui Webinar Bedah Proyek

Surakarta, 1 Juni 2026 – Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan kegiatan Webinar Bedah Proyek sebagai bagian dari upaya meningkatkan kompetensi mahasiswa melalui pembelajaran berbasis pengalaman praktis. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting ini menghadirkan Ir. Muchlis A. Putra, S.T., M.MT., IPM., dosen Teknik Sipil UMS sekaligus mantan Project Manager PT PP (Persero) Tbk, sebagai narasumber.
Acara dibuka oleh Ketua Program Studi Magister Teknik Sipil UMS, Dr. Ir. Yenny Nurchasanah, S.T., M.T., yang menyampaikan bahwa kegiatan Bedah Proyek merupakan salah satu program pengembangan akademik untuk menjembatani teori yang diperoleh di perkuliahan dengan praktik nyata di lapangan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan memperoleh wawasan langsung mengenai tantangan dan strategi pelaksanaan proyek konstruksi berskala besar.
Dalam pemaparannya, Ir. Muchlis membahas pengalaman pelaksanaan Proyek Menara BRI Jakarta, sebuah gedung bertingkat tinggi yang terdiri atas 42 lantai dan 5 lantai basement. Proyek tersebut memiliki tingkat kompleksitas tinggi karena berlokasi di kawasan padat Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, dengan keterbatasan ruang kerja serta tantangan logistik dan keselamatan konstruksi. Narasumber menjelaskan berbagai aspek pelaksanaan proyek, mulai dari organisasi proyek, metode konstruksi basement, penggunaan diaphragm wall dan ground anchor, hingga strategi pengendalian mutu dan manajemen risiko.
Salah satu materi yang mendapat perhatian peserta adalah penerapan sistem monitoring pada pekerjaan galian dalam (deep excavation). Narasumber menjelaskan pentingnya penggunaan inclinometer, settlement marker, monitoring ground anchor, serta evaluasi geoteknik secara berkala untuk mengendalikan pergerakan tanah dan menjaga keamanan bangunan di sekitar proyek. Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam mitigasi risiko selama pelaksanaan pekerjaan basement.
Selain itu, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai implementasi Building Information Modeling (BIM) yang dimanfaatkan tidak hanya sebagai media pemodelan tiga dimensi, tetapi juga untuk koordinasi desain, clash detection, sequencing, virtual mock-up, pengendalian kualitas, hingga pengelolaan informasi proyek sesuai standar internasional. Penerapan BIM dinilai mampu meningkatkan efisiensi koordinasi antar pemangku kepentingan dalam proyek konstruksi.
Pada sesi berikutnya, narasumber memaparkan penerapan sistem keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang diterapkan secara konsisten di proyek, meliputi toolbox meeting, patroli keselamatan, pelatihan pekerja, inspeksi peralatan, hingga prosedur tanggap darurat. Implementasi budaya keselamatan tersebut menjadi salah satu faktor pendukung keberhasilan pelaksanaan proyek dengan tetap mengutamakan perlindungan tenaga kerja.
Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Mahasiswa mengajukan berbagai pertanyaan mengenai prosedur pemasangan ground anchor, koordinasi antara konsultan dan perencana, strategi mitigasi pergerakan tanah, penggunaan sensor struktural, hingga penanganan dampak konstruksi terhadap lingkungan sekitar. Menanggapi pertanyaan tersebut, Ir. Muchlis menegaskan bahwa keberhasilan proyek gedung bertingkat tinggi sangat bergantung pada perencanaan yang matang, koordinasi lintas disiplin, metode kerja yang tepat, serta sistem monitoring yang konsisten selama pelaksanaan konstruksi.

Melalui kegiatan Bedah Proyek ini, mahasiswa memperoleh gambaran nyata mengenai pengelolaan proyek konstruksi gedung bertingkat tinggi, mulai dari aspek teknis, manajerial, teknologi BIM, hingga keselamatan kerja. Program Studi Magister Teknik Sipil UMS berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai sarana memperkuat kompetensi lulusan serta memperluas kolaborasi antara dunia akademik dan praktisi industri konstruksi.